GWINDONESIA.COM,SERANG
Indikasi adanya dugaan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dalam pelaksanaan Program Ketahanan Pangan di Desa Parigi, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten, menjadi sorotan publik. Hal ini disebabkan oleh pelaksanaan program yang diduga tidak sesuai dengan spesifikasi pada Rincian Anggaran Belanja (RAB).
Berdasarkan data realisasi Alokasi Dana Desa (ADD), tercatat bahwa:
Pada tahun anggaran 2022, Pemerintah Desa Parigi mengalokasikan anggaran sebesar Rp 163.712.500 untuk program Peningkatan Produksi PeternakanTahun anggaran 2023, kembali dialokasikan anggaran untuk Pelatihan/Bimtek Teknologi Tepat Guna sektor Perikanan Darat/Nelayan sebesar Rp 8.500.000**, serta **Pembangunan/Rehabilitasi Karamba atau Kolam Perikanan sebesar Rp 173.980.750Tahun anggaran 2024, dialokasikan anggaran sebesar Rp 31.500.000 untuk Bantuan Perikanan.
Namun, sejumlah warga mempertanyakan pelaksanaan program tersebut, termasuk kelompok penerima manfaat.
Kasja, salah satu pengelola kelompok ternak kambing, menyampaikan bahwa program ternak baru mulai berjalan pada tahun 2023, atau dua tahun terakhir. Terdapat empat kelompok ternak, masing-masing terdiri dari empat orang, dengan total 16 pengelola kambing. Setiap kelompok menerima 4 ekor kambing betina dan 1 ekor jantan.
“Kalau dihitung, harga kambing betina sekitar satu juta rupiah per ekor, sedangkan pejantan bisa mencapai dua juta rupiah. Namun, soal sistem bagi hasil belum ada kejelasan. Dulu pernah pak lurah kasih uang Rp150 ribu sebagai upah cari rumput, itu pun hanya sekali,” ujar Kasja saat dikonfirmasi.
Senada dengan itu, Nurma, warga setempat, membenarkan adanya empat kelompok ternak kambing di desa tersebut. “Kalau tidak salah memang ada empat kelompok, dan kambingnya biasa dilepas dari kandang saat akan diberi makan,” jelasnya.
Sementara itu, Ustadz Sodik, anggota Kelompok Budidaya Perikanan Desa Parigi, mengungkapkan bahwa sejak tahun 2023 dirinya bersama dua rekan lainnya membudidayakan ikan nila dan lele dengan jumlah benih sebanyak 15.000 ekor, dengan estimasi nilai mencapai Rp 15 juta.
“Alhamdulillah, dari hasil panen bisa sampai lebih dari satu ton. Sebagian hasilnya juga dibagikan ke masyarakat. Kami bertiga menerima sekitar Rp 2 juta per orang dari hasil panen,” kata Ustadz Sodik.
Menurutnya, kelompok budidaya ikan ini kini sudah berkembang menjadi dua kelompok. “Tahun 2024 dibentuk kelompok baru, dan mereka juga mendapat 15.000 benih ikan, jadi total keseluruhan ada 30.000 benih untuk dua kelompok,” lanjutnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Desa Parigi belum memberikan keterangan resmi terkait penggunaan anggaran tersebut meskipun telah berupaya dikonfirmasi.
(Mugiono)




